Wawancara Virtual dengan Aji Prasetyo

Wawancara Virtual dengan Aji Prasetyo

Oleh -
0 144
Aksen-Aji-Prasetyo-Wawancara

Catatan editor: Artikel wawancara ini pertama kali dimuat di Gerbong Belakang Creatives, dan bisa diakses melalui tautan ini

Tadi malam (05/06/2015) saya sedang menulis ulasan saya untuk komik Teroris Visual karya Aji Prasetyo, sembari online di facebook. Tak disangka, Mas Aji, sang penulis, juga sedang online. Maka segera saya mencoba chatting dengannya. Sebuah wawancara virtual, yang sebenarnya sudah saya rencanakan sejak saya membaca komik Teroris Visual ini. Syukurlah, Mas Aji berkenan menjawab pertanyaan pertanyaan saya. Berikut petikannya:

PGB: Saya
AP: Aji Prasetyo

*****

PGB: Halo Mas Aji, saya PGB. Saya udah beli komik mas Aji nih, Teroris Visual. Keren.

AP: Halo mas, makasih apresiasinya. Boleh dong diupload capture halaman favoritnya, sekalian ulasan seperlunya. Buat evaluasiku ajaa

PGB: Di blogku ya mas, sek lagi tak rampungkan.

AP: Asoooy, makasih banget. Ntar aku share.

PGB: Betewe kalo boleh saya bikin beberapa pertanyaan buat mas Aji boleh? Untuk blog juga sih..

AP: Silahkan, monggo kang..

PGB: Kritik dalam komik Mas Aji cukup keras, sebenarnya siapa yang mas tuju? Maksud saya pangsa pasar pembacanya..

AP: Pangsa pasar yang kutuju adalah silent majority.

PGB: Bisa lebih spesifik mas, siapa sih silent majority itu?

AP: Mereka butuh kepastian bahwa apa yang nurani mereka rasakan memang benar adanya. Mereka cuma butuh pemantaban, bahwa yang mereka rasakan pun diresahkan oleh yang lain pula. Misalnya saja, seorang muslim yang dalam hati kecilnya sebenarnya kurang sreg dengan apa yang diajarkan oleh seorang ustad. Tapi tidak punya keberanian untuk mengkritisinya. Kalangan seperti ini butuh “ruang curhat” yang bebas dari intimidasi dogmatis. Tidak semua orang cukup beruntung untuk ditakdirkan punya kumpulan yang kritis. Tapi semoga dengan media sosial dan karya-karya kritis seperti ini mereka sadar bahwa mereka “tidak sendirian”

PGB: Oke,, terpengaruh dari kehidupan sosial di sekitar Malang ya mas? Atau Indonesia secara umum?

AP: Indonesia secara umum. Apa yang dilakukan FPI di masa-masa kebesaran mereka, misalnya, biarpun terjadi di Jakarta, tapi oleh media disebarkan ke seluruh pelosok Indonesia. Keresahan di daerah-daerah pun terjadi meskipun yang digebukin FPI cuma di monas. Malang cenderung kondusif. Banser masih pegang kendali. FPI tidak bisa macam-macam di sini. Tapi demi melihat ulah mereka di tivi, marah lah kita.

PGB: Yap, got it..

AP: Kasus pemukulan jemaah paskah di Yogya misalnya, sangat menyakiti perasaan kita-kita yang di sini. Termasuk kita marah pada penguasa. Mereka abai pada sumpah mereka menjaga konstitusi, bahwa tiap warga negara berhak beribadah sesuai dengan agamanya masing masing, adalah dijamin oleh UUD. Dijamin oleh konstitusi. Tapi apa tindakan negara saat warga negaranya diserang saat beribadah? Atau saat tempat ibadahnya ditutup paksa?

PGB:Radikal, kritis, adalah sesuatu yang gampang dijual. Kaum muda cenderung mencari simbol-simbol perlawanan lewat musik dan mungkin komik salah satunya. Perlawanan bisa jadi berubah jadi komoditi. Dalam konteks komik yang mas bikin, pendapat mas Aji bagaimana?

AP: Komoditi memang menggiurkan. Tapi jika dijual oleh orang yang hatinya gak kesitu, hambar jadinya. Musik reliji misalnya.Komikku diawali dengan unduhan gratis di media sosial. Misiku adalah mengajak orang untuk marah bersama. Banyak hal yang layak kita gugat namun melengang begitu saja. Saatnya untuk menumbuhkan kemarahan bersama tadi untuk menjadi kekuatan perlawanan.
Jika ada yang menduga aku menjual simbol perlawanan, well,,, bahkan komik tidak mampu untuk menghidupiku. Itulah kenapa aku masih main musik dan buka kedai kopi (grin emoticon).
Bahkan jika aku dapat pemasukan dari berkomik misalnya, kugunakan untuk operasional pergerakan lokal. maksudnya aku dan para “pengikutku” di sini

PGB: Haha, saya ga menuduh lo mas…

AP: Jaman sekarang orang mau keluar duit cuma untuk relaksasi, tidak lebih. Komikku dan gaya mbanyolku mungkin bisa jadi media relaksasi, tapi, aku penganut pakem kuno. Leluhur kita bilang, tontonan itu haruslah juga tuntunan. Maka itulah yang kulakukan dengan komikku.

PGB: Oke lanjut, ini kan komik kedua setelah Hidup Itu Indah

AP: Yup

PGB: Nah, menurut mas Aji, adakah yang berubah, maksud saya pembaca komik mas, setelah dia membaca komik komik mas Aji? Mas Aji pernah mengukur gak,  seberapa signifikan komik mas Aji merubah mindset seseorang, dalam hal ini pembaca komik mas pastinya?

AP: Jika di antara seribu pembaca komikku, hanya sepuluh orang yang tercerahkan, buatku itu sudah patut disyukuri. Hahaha. Kita seperti petani. Lakukan yang terbaik. Soal seberapa hasil panen kita terima dengan ilmu ikhlas.
Tapi ijinkan aku berbagi kegembiraan dengan sampeyan,…

PGB: Hahahaha… Aku gembira kok mas.

AP: Kasus Atik bank Jatim sudah diekspos gila-gilaan sejak 2011. Tapi baru diangkat oleh “Mata Najwa” sejak membaca komikku. Sekelompok mahasiswa UIN di sebuah kota di jatim tergerak membela kompleks lokalisasi yang akan ditutup warga, karena mereka terinspirasi analogi dalam komikku. Aku bersyukur, jalan komik ternyata bisa kugunakan dengan cukup efektif

PGB: Oke, pertanyaan lanjutan nih. Untuk genre komik yang begini (mas sebut komik opini, bener ga?) mas terpengaruh oleh siapa?

AP: Seno Gumira yang menamainya komik opini. Ayu Utami lebih suka dengan istilah “komik essay”. Aku penggemar Dwi Koendoro. Namun aku gak puas jika hanya mengomel dalam bentuk komik strip. Caraku meracau butuh lahan yang lebih lebar, hehe.

PGB: Dwi Koendoro komikus Sawung kampret?

AP: Yup, dan Panji Koming yang rutin dimuat di Kompas itu

PGB: Oke,, pertanyaan kedua dari terakhir ya mas.. Pendapat mas tentang komik Indonesia saat ini?

AP: Geliat sudah mulai muncul meskipun kita harus berdarah-darah untuk bisa bersaing dalam pasar internasional. Industrinya masih dalam proses pembentukan., namun aku optimis. Apalagi jika komikus kita tidak hanya fokus rebutan pasar, namun lebih pada memenuhi kebutuhan segmen yang ia tuju.
Misalnya di Iran, karya yang mendunia salah satunya adalah Persepolis karya Satrapi (Marjan Satrapi; pen.). Itu bukan komik, tapi lebih tepatnya graphic novel. Untuk pasar komik dalam negerinya, aku yakin lebih banyak yang tergila2 pada manga atau marvel (Marvel Comic; pen). Tapi karya Satrapi mendunia, karena dia tidak berusaha berebut pasar, melainkan fokus pada pencapaian. Ambisi ini yang harus dimiliki seniman kita. Pasar ntar pasti ngikut sendiri. Satu lagi, karya seniman kita sebaiknya merespon masalah bangsanya. Bukannya abai dan lantas hanya fokus pada bisnisnya doing. Itu yang membuat kita cuma suka mengekor tren, bukan menciptakannya

PGB: Berarti mas ga percaya: “seni untuk seni” ? Duh nambah pertanyaan, hehehe

AP: Bukan tidak percaya, tapi lebih memilih tidak ikut mengamininya (grin emoticon)

PGB: Oke, mas,,, Abis ini aku kirim link blogku ya.. Satu kalimat dong untuk blogku

AP: Jiah,…sudah jadi?? Tak bacanya dulu ya

PGB: Bla bla bla (off the record)

AP: Bla bla bla (off the record)

PGB: Betewe aku tuh pernah ketemu mas aji dulu, tahun 2013 nek ga salah. Di Surabaya, waktu event komik di Mall Tunjungan Plaza, cuma ga sempet foto2..hehe..
Betewe thanks ya mas untuk wawancaranya

AP: Waah, maaf jika aku lupa kalo kita pernah ketemu. Oke bro, kapanpun deh. Aku makasih juga untuk reviewmu yang-meskipun belum kelar kubaca, sungguh keren.

PGB: Sama sama mas… Terimakasih banyak juga

Penikmat banyak hal: komik, musik, film, sastra, sejarah, hutan, gunung, tebing batu, goa, sungai, ide dan wacana, perempuan, alkohol, tembakau, agama, dan apa saja. Bekerja di bidang kehutanan sebagai Chain of Custody specialist dan berharap selalu muda.