Wid NS: Pendekar Komik*

Wid NS: Pendekar Komik*

Oleh -
0 158
wis-ns
courtesy: Comical Magz

Namanya Wida Nara Soma, tetapi kebanyakan orang mengenalnya sebagai Wid N.S. Sekarang ia berusia 64 tahun, matanya terkadang terlihat lelah, tapi antusiasmenya terhadap komik belum juga lenyap.

Wid N.S mulai jatuh cinta kepada komik ketika ia masih kanak-kanak. Tumbuh di tahun 1950an ketika distributor komik Amerika mendominasi pasar Indonesia, Wid menjadi seorang penggemar ‘Rip Kirby’­-nya Alex Raymond, ‘Phantom’-nya Wilson McCoy, dan serial ‘Tarzan’, yang ia baca di majalah Weekly Star dan surat kabar Keng po.  

Meskipun begitu tidak semua pengaruh yang mendekam dalam diri Wid berasal dari Amerika. Pada akhir 1950-an dan awal 1960-an, orang Indonesia mulai menciptakan karya komik yang merefleksikan isu-isu sosial dan politik kontemporer. Wid menikmati serial komik dengan tema kekaisaran China yang diterbitkan Star Weekly untuk bersaing dengan strip-strip Amerika, dan juga versi lokal ‘Wonder Woman’ berjudul ‘Sri Asih’, dan ‘Kapten Koet’ karya Kong Ong yang memiliki kemiripan mencolok dengan ‘Flash Gordon’.

Komik yang menampilkan repertoar karakter pertunjukan wayang juga muncul sebagai sebuah respons atas dominasi asing terhadap ranah komik Indonesia. Beberapa komik di era itu bahkan terang-terangan mengambil tema politis, seperti ‘Kadir dan Konfrontasi’, dan ‘Hantjurlah Kubu Nekolim’, yang dipublikasikan pada awal 1960-an ketika Presiden Soekarno berkonfrontasi dengan Malaysia. Pengambil-alihan Irian Barat oleh Indonesia menginspirasi komik ‘Puteri Tjendrawasih’ (burung yang menjadi ikon propinsi baru itu). Kebangkitan Partai Komunis Indonesia memicu kemunculan sebuah komik berjudul ‘Peristiwa Indramaju’ yang menarasikan perjuangan rakyat melawan borjuis untuk memperoleh kontrol atas tanah yang bisa dibagikan kepada orang miskin. Kehancuran komunisme di Indonesia memicu kemunculkan sebuah komik berjudul ‘Bandjir Darah di Kabut Pagi’.

Tidak puas dengan hanya mengagumi karya orang lain, Wid NS mulai membentuk dirinya sendiri, memasuki Sekolah Menggambar Akademi Seni Rupa di Yogyakarta. Setelah berjalan satu setengah tahun ia meninggalkan sekolah, bekerja di Badan Penerangan Pemerintah sebagai ilustrator. Pada 1967 ia mendengar bahwa penerbit komik Cahaya Gumala menerima kiriman naskah, dan dia mengirimkan beberapa dari karyanya. Yang mengejutkan, komiknya tidak hanya diterbitkan, tapi publik juga meresponnya dengan antusias.

Karir Wid NS mulai berjalan baik pada tahun 1970-an. Dibawah Presiden Soeharto, komik politik dilarang, tetapi komik yang menampilkan pahlawan-pahlawan super, bintang silat, roman remaja, dan humor menjadi sangat populer. Wid NS meninggalkan tanda di sejarah komik Indonesia sebagai kreator Godam, pahlawan super bergaya Indonesia.

Wid NS mengaku bahwa ‘Godam’ terinspirasi dari serial legendaris, ‘Superman’. Pada waktu itu penerbit menawarkan kesempatan untuk membuat komik pahlawan super, tidak hanya komik silat atau roman remaja yang sangat populer ketika itu. “Saya diminta untuk membuat komik seperti ‘Superman’, jadi saya membuat ‘Godam’ sekitar 20 puluh buku yang masing-masing terdiri dari 10 sampai 20 panel. Komik ‘Godam’ sangat sukses sampai-sampai saya mampu pindah ke Jakarta selama tiga tahun,” Kata Wid NS dari rumahnya di Yogyakarta.

Meskipun begitu sejak tahun 1980-an, kepopuleran komik Indonesia mulai menghilang. Anak-anak muda Indonesia mulai ditarik oleh media baru seperti televisi dan pasar komik mulai penuh dengan produk-produk Amerika dan jepang. Banyak rekan seprofesi Wid NS mulai beralih profesi, dan kritikus seni Indonesia mulai berbicara tentang ‘kematian komik Indonesia’. Tetapi Wid NS sendiri mampu bertahan mempubliskasikan karyanya lewat surat kabar dan majalah lokal, dan menginspirasi seniman muda supaya tekun menempatkan Indonesia di peta komik dunia sekali lagi.

Untuk Lattitudes, Wid NS menciptakan sebuah komik strip unik. Komik ini digambarnya berdasarkan ketertarikannya kepada sejarah Indonesia, menceritakan sebuah cerita rakyat Jawa di awal mula kerajaan Mataram. Karakter Pembayun adalah seorang perempuan yang menjadi korban politik walaupun ia mendambakan perdamaian. Pembayun hanyalah satu karakter dari serial kisah Mangir yang mendeskripsikan konflik di dalam kerajaan Mataram pada paruh pertama abad ke-16, yang berada di bawah pemerintahan Pangeran Senapati. Cerita Pembayun tidak hanya mendeskripsikan seorang perempuan yang mengalami rasa pahit penindasan, namun kehidupan kerajaan yang bobrok, di mana pengkhianatan, kekejaman, dan pertumpahan darah menjadi hal yang biasa. Ini bukan hanya sebuah kisah rakyat berdasarkan sejarah tetapi juga peringatan, sebagaimana orang Indonesia mencoba untuk membebaskan diri mereka dari sejarah kekerasan dan korupsi.

*)Diterjemahkan dari : WID NS:Comic Crusader

Catatan Editorial: Artikel ini pertama kali dipublikasikan tahun 2002 di Lattitudes, kurang lebih setahun sebelum Wid NS meninggal pada tahun 2003.